KITAB
SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja
Katolik | |
|
103. St. Leo IV (847-855)
Leo lahir di Roma meski asal usulnya orang Lombardia. Terpilih menjadi paus pada 10 April 847 secara mengagumkan saat kematian Paus Sergius. Ia seorang Benediktin, sudah lama mengabdi di Kuria Keuskupan. Paus ini adalah paus terkahir dari “paus-paus Romawi Kuno”. Dari paus inilah muncul sebutan “kota Leonin” karena dialah yang membangun tembok Leonin yang mengelingi bukit Vatikan meliputi juga Basilika St. Petrus, istana dan perumahan yang muncul di seputar istana St. Angelus. Konstruksi itu, yang juga telah dirancang Paus Sergius dan Lothair (ayah Louis II, raja Italia), sangat mendesak sebagai pertahanan terhadap serangan kaum Sarasen yang mengancam Roma. Untuk mengusir para peromoak, sebuah persekutuan dibentuk oleh Amalfi, Gaeta dan Naples. Raja Louis juga ikut serta, paus sendiri dengan dukungan para bangsawan Campania (wilayah Italia selatan dengan Napoli ibukotanya), mengangkat senjata dan bertempur. Paus memahkotai Louis sebagai kaisar. Sebuah mujizat terlah terjadi atas diri Paus Leo dalam salah satu penyerbuan kaum Sarasen. Kebakaran ternadi dan menghapuskan perkampungan. Paus berhasil memadamkan api dengan mengambil arca Perawan Maria dan menunjukkannya dari jendela. Kisah ini terpatrik dalam fresco yang dibuat Rafael yang berjudul “Kebakaran di Desa”..
Leo tidak hanya memberikan perhatian pada kaum Sarasen dan perang melulu, ia juga menghadapi skisma dan kekeliruan ajaran yang selalu ditentangnya. Ia adalah paus pertama yang selalu menuliskan tahun usia kepausannya dalam setiap dokumen resmi. Ia memulai ritus pemercikan “air suci” atas orang dan barang untuk menguduskannya. Ia menghormati hak-hak kerajaan, namun tetap mempertahankan hak-hak Takhta Suci, khususnya dalam pemilihan paus. Ia memberkati dan memberikan sakramen pengiatan kepada Alfred, putera Ethelwulf. Di kemudian hari Alfred menjadi Raja Alfred. Leo wafat pada 17 Juli 855.
|